Kiprah tim R&D RGE Dalam Meningkatkan Produksi Perusahaan

20.35



Royal Golden Eagle (RGE) telah berkembang pesat dibanding saat pertama kali didirikan dengan nama Raja Garuda Mas. Keberhasilan itu tak lepas dari kinerja apik semua pihak di perusahaan. Namun, tim Research & Development (R&D) patut mendapat perhatian tersendiri karena berkontribusi terhadap peningkatan produksi.

RGE didirikan pada 1973 oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Pada awalnya, grup yang pertama kali bernama Raja Garuda Mas ini hanya menekuni industri kelapa sawit. Namun, cakupan bidang yang diterjuninya kini telah berkembang semakin luas seiring perkembangan perusahaan.

Sekarang, secara garis besar, bidang bisnis Royal Golden Eagle dapat dibagi menjadi lima bagian. Selain kelapa sawit, mereka juga berkecimpung dalam industri pulp and paper, selulosa spesial, viscose fibre, dan energi.

Dalam menjalankannya, RGE merupakan kelompok usaha yang terdiri dari beberapa bisnis unit yakni, Asian Agri, Asia Symbol (pulp and paper), Apical (palm oil/bio diesel, oleo chemicals), Bracell (selulosa spesial), Sateri (viscose fibre), serta Pacific Oil & Gas (energi).

Saat ini, aset RGE juga sudah berkembang pesat dibanding pada masa masih bernama Raja Garuda Mas. Sekarang, asetnya ditaksir senilai 18 miliar dollar Amerika Serikat dengan karyawan mencapai 60 ribu orang. Royal Golden Eagle diketahui beroperasi di Asia Tenggara, Brasil, Tiongkok, dan India.

Kesuksesan Royal Golden Eagle tentu tak lepas dari kinerja apik semua unsur di dalam perusahaan. Namun, terkait peningkatan produksi, tim R&D ternyata berperan besar. Mereka membuat beragam terobosan yang memungkinkan RGE mampu meningkatkan produksinya.

Ada banyak contoh yang bisa dikedepankan. Salah satunya ada di Asian Agri, anak perusahaan Royal Golden Eagle yang berkecimpung dalam industri kelapa sawit. Seperti unit bisnis RGE lain, semangat untuk mengembangkan diri agar meraih hasil yang lebih baik juga dimiliki oleh Asian Agri. Hal itu diwujudkan secara nyata oleh departemen R&D mereka.

Asian Agri memiliki tim riset dan pengembangan yang dinamai AA R&D Centre. Departemen ini bermarkas di Tebing Tinggi, Sumatera Utara dan telah berdiri sejak 1989.

Pada awalnya, AA R&D Centre hanya memiliki tujuh staf peneliti. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, staf yang mereka miliki juga bertambah. Tercatat, AA R&D Centre kini mempunyai 46 staf dan 120 peneliti.

Para personel AA R&D Centre berasal dari beragam latar pendidikan berbeda. Mereka ada yang berasal dari bidang studi agronomi, tanah, hama, penyakit, breeding, serta bioteknologi. Tingkat pendidikannya juga beragam mulai dari jenjang S1, S2, S3 baik dari perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri.

Oleh Royal Golden Eagle, AA R&D Centre diberi kepercayaan untuk melakukan penelitian yang terintegrasi untuk pengembangan paket teknologi ramah lingkungan. Paket teknologi ini termasuk benih unggul, pemupukan yang memenuhi prinsip 4T (tepat dosis, tepat jenis, tepat waktu dan tepat sasaran), pengendalian hama penyakit dengan prinsip Integrated Pest Management, konservasi air dan tanah, dan pemanfaatan sisa pengolahan di pabrik.

Salah satu buah kerja AA R&D Centre begitu berpengaruh terhadap peningkatan produksi. Hal itu adalah kemampuan melahirkan bibit unggul Topaz yang mampu memberi hasil maksimal dalam perkebunan kelapa sawit.

Tim AA R&D Centre merilis Topaz pada 2004 setelah mendapat SK Menteri Pertanian. Mereka melepas empat varietas, yakni Topaz 1, Topaz 2, Topaz 3 dan Topaz 4. Mulai saat itu hingga 2015, sudah ada 130 juta benih dalam bentuk kecambah yang dilepas kepada perkebunan besar, petani plasma, dan petani swadaya di seluruh Indonesia. Bahkan, bibit kelapa sawit unggulan ini juga sudah mampu menembus pasar luar negeri.

Topaz dihasilkan dari kegiatan seleksi dan pemuliaan yang sistematis dan berkelanjutan. Namun, semua tidak tidak sia-sia. Sebab, bibit kelapa sawit akan menentukan investasi yang dikeluarkan dalam perkebunan. Patut disadari, kelapa sawit bisa bertahan terus berproduksi baik hingga 20 sampai 25 tahun. Sesudah itu, tanaman anyar perlu ditanam di perkebunan. Akibatnya, ketika salah memilih bibit, penyesalan akan dirasakan selama itu.

Akan tetapi, Topaz mempunyai beragam keunggulan yang berarti signifikan dalam proses produksi. Benih ini memiliki potensi hasil tandan buah segar dan minyak yang tinggi. Topaz juga sudah menghasilkan dalam jumlah besar sejak panen pertama. Itu masih dipadu dengan rendeman minyak yang bagus.

Selain itu, ada keuntungan lain yang memudahkan pengolaan perkebunan. Benih Topaz akan menghasilkan pohon dengan pertumbuhan meninggi yang lambat. Tapi yang paling penting adalah memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik pada tanah marginal.

Semua itu berkontribusi penting terhadap produksi Asian Agri. Anak perusahaan RGE ini mampu menghasilkan minyak kelapa sawit sebanyak 1 juta ton per tahun. Mereka bisa meraih kapasitas produksi tersebut dengan mengelola 160 ribu hektare perkebunan dan berpartner dengan 30 ribu petani.

PENINGKATAN PRODUKSI PERKEBUNAN


AA R&D Centre bukan satu-satunya departemen R&D di Royal Golden Eagle yang berkinerja apik dalam mendukung proses produksi. Tim serupa dari APRIL Group juga tak bisa disepelekan. Hasil kerja kerasnya terus meningkatkan kapasitas produksi perusahaannya.

APRIL Group merupakan unit bisnis RGE yang bergerak dalam industri pulp and paper. Mereka memiliki tim R&D dengan 160 tenaga ahli professional, 15 di antaranya ulusan tingkat doktoral (PhD).

Anak perusahaan RGE ini berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan untuk memastikan operasional perusahaan berkelas dunia dan menghasilkan produk dengan kualitas terbaik. Namun, secara khusus APRIL ingin memajukan pendekatan yang berkelanjutan untuk manajemen perkebunan kehutanan. Mereka berambisi meningkatkan produktivitas dan efisiensi dengan basis inovasi dari sains.

Hasilnya sangat menakjubkan. Departemen R&D APRIL Group berhasil membantu peningkatan hasil perkebunan akasia secara konstan. Akibatnya kapasitas produksi APRIL juga terus meningkat.

Patut diketahui, dalam memproduksi pulp and paper, diperlukan bahan baku berupa kayu. Nanti kayu itulah yang diproses menjadi pulp ataupun kertas. APRIL Group mendapatkan kayu sebagai bahan baku dari perkebunan sendiri yang terbarukan. Mereka menamam pohon akasia yang dikenal memiliki kualitas apik untuk memproduksi pulp dan kertas.

Oleh karena itu, pengeloaan perkebunan akasia menjadi salah satu segi penting dalam rantai produksi APRIL. Dalam hal ini, departemen R&D mereka mengambil peran penting. Beragam riset dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi perkebunan.

Buahnya terlihat nyata. Hasil perkebunan akasia APRIL terus meningkat. Dulu, pada 1996, setiap hektare perkebunan akasia hanya menghasilkan 22 meter kubik kayu. Namun, berkat penerapan beragam terobosan hasil penelitian departemen R&D, produksi telah melonjak menjadi 32 meter kubik per hektare pada 2010.

Meski begitu, APRIL tetap belum berpuas diri. Mereka berupaya keras untuk terus meningkatkan produksi. Pada 2020, anak perusahaan RGE ini menargetkan peningkatan produksi hingga 35 meter kubik setiap hektare.

Dua contoh tersebut memperlihatkan betapa besar kontribusi departemen R&D untuk RGE. Berkat penelitian dan pengembangan yang mereka lakukan, kapasitas produksi Royal Golden Eagle terus melonjak. Ini pula yang akhirnya berdampak terhadap perkembangan grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas tersebut.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »